Sunday, 29 December 2013

Natal Tak Pengaruhi Harga Daging

Suasana normal di blok daging  Pasar Johar Semarang. (ABDUS SALAM)

SEMARANG- Menjelang hari raya Natal, harga daging sapi tetap pada harga normal, yaitu diharga Rp 75 ribu per satu kilogram. Menurut Fatimah, salah satu pedagang daging sapi di Pasar Johar Semarang, harga daging sapi dipasaran tidak ada pengaruhnya jelang Natal dan Tahun Baru.
Menurutnya, harga daging sapi sampai hari ini (kemarin) masih pada harga normal seperti hari-hari biasa, dan tidak ada lonjakan yang tidak biasa.
"Sampai H-2 Natal harga daging masih tetap nggak naik, hanya saja penjualannya lebih laris dari hari-hari biasa," ujar Fatimah saat ditemui di lapaknya, Senin (23/12).
Menurut Fatimah, walaupun nantinya ada kenaikan harga yaitu sekitar Rp 4 – 5 ribu, dirinya mengaku tidak terlalu mempermasalahkan.
Selain itu, menjelang hari raya Natal pada tahun ini, penjualan daging sapi lebih tinggi, terutama untuk konsumsi di hotel-hotel, restoran dan rumah makan.
Pedagang lain juga menuturkan kalau daging sapi saat ini masih pada harga normal dan tidak ada kenaikan harga, meskipun sudah mendekati Natal.
“Dari tempat pemotongan daging pernah mau menaikkan harga, tapi kenyataannya juga tidak naik,” ujarnya. (lam)

Friday, 27 December 2013

Libur Panjang, Taman Margasatwa Diserbu




 
 Pengunjung antusias melihat orang hutan yang berpose bagaikan artis. (Abdus Salam)
 SEMARANG- Libur panjang sudah tiba, kumpul dan bersantai bersama mungkin menjadi alternatif bagi keluarga. Pantauan Barometer di Taman Margasatwa Semarang (Bonbin Mangkang), para  pengunjung terlihat ramai bertamasya dilokasi ini, Kamis (26/12).
Menurut Kepala Taman Margasatwa Semarang, Kusyatno, pada musim liburan seperti ini pengunjung naik seratus persen dibandingkan dengan hari-hari biasa.  Dalam sehari pengunjung bisa mencapai seribu bahkan lebih, ini terlihat dari tempat parkir, penjualan tiket dan keramaian di lokasi taman margasatwa ini.
"Sehari kalau seribu ada, bahkan kemarin pasca libur Natal malah lebih ramai dari hari ini," ujarnya saat ditemui Barometer di lokasi flying fox.
Disinggung mengenai strategi untuk menarik pengunjung, Kusyatno menyatakan tidak begitu banyak membuat promosi untuk menarik pengunjung. Biasanya, promosi tersebut dilakukan malalui media elektronik dan cetak ketika ada momen kelahiran satwa baru di taman margasatwa tersebut.
"Promosi tidak begitu gencar karena juga tidak ada budget untuk promosi, biasanya itu yang bertanggung jawab dari Dinas Pariwisata, kalau dari sini (pengelola bonbin) paling melalui media cetak dan elektronik," ujarnya.
Selain itu, dari pihak pengelola juga bekerjasama dengan aparat, seperti Koramil dan kepolisian setempat untuk menjaga keamanan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Pas ramai seperti ini kita mengantisipasi hal yang tidak diinginkan dengan mendatangkan TNI dan Polisi untuk juga menjaga keamanan," tambahnya.
Antusias Pengunjung
Deretan satwa yang ada di Taman Margsatwa Semarang ini, terlihat pengunjung antusias melihat orang hutan. Tidak mau kehilangan moment, para pengunjung mencoba mengabadikan dengan kamera handphone untuk memotret seekor orang hutan yang keluar dari sarangnya dan menuju ke deretan pengunjung, seolah-olah orang hutan ini menyapa para pengunjung dengan berpose bagaikan model.
Pengunjung asal Pati, Erik, sengaja datang jauh-jauh untuk mengisi liburan bersama keluarga ke Taman Margasatwa Semarang. Selain itu, dirinya juga terkesan dengan orang hutan yang ada di taman margasatwa ini.
"Saya kesini datang bersama keluarga, untuk mengisi waktu luang dan bersantai saja," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Purwanto, yang datang dari Dempel, sengaja bertamasya bersama keluarga mengisi waktu liburan. 
"Mumpung waktu liburan, saya juga belum pernah kesini, ini juga baru pertama kalinya, tapi banyak juga satwanya," akunya. (Abdus Salam)

OJK Siapkan Pengawasan BPJS




 SEMARANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menyiapkan aturan pengawasan terhadap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang akan mulai beroperasi pada 1 Januari mendatang.
“Pengawasan OJK terhadap BPJS dapat berjalan secara efektif dan efisein,  diperlukan peraturan yang menjadi acuan dalam pengawasan BPJS,” kata Kepala Eksekutif Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK, Firdaus Djaelani, dalam rilis resminya, kemarin.
Menurut Djaelani, Rancangan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (RPOJK) tentang pengawasan BPJS yaitu menggunankan dua metode pengawasan, yakni pengawasan langsung dan pengawasan tidak langsung.
“Pengawasan langsung melalui pemeriksaan, sedangkan pengawasan tidak langsung melalui analisis berkala,” ujarnya,
Dikatakan Firdaus, terkait pelaporan nantinya mencakup laporan keuangan (bulanan, semesteran dan tahunan) dan laporan pengelolaan program (bulanan, semesteran dan tahunan), serta laporan aktuaris (tahunan).
“Sedangkan terkait sanksi dan rekomendasi, akan diberikan surat peringatan dan rekomendasi kepada DJSN dan atau presiden,” tambahnya.
Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga akan melibatkan sejumlah pihak dalam pembahasan RPOJK tentang pengawasan terhadap BPJS. Antara lain  Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJS), Kementerian Keuangan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, PT Askes (Persero), PT Jamsostek (Persero), Ikatan Akuntansi Indonesia dan World Bank.
“Setelah peraturan OJK tentang pengawasan BPJS ditetapkan, maka akan dilakukan sosialisasi kepada BPJS terkait dengan ketentuan yang ada dalam aturan tersebut,” terangnya.
Meskipun demikian, Djaelani menambahkan, kewajiban penyampaian laporan bulanan oleh BPJS akan dimulai sejak Maret 2014 mendatang.
“Namun, nantinya tetap diawali dengan laporan bulanan untuk periode yang berakhir pada 31 Januari 2014,” pungkasnya. (Abdus Salam)

Mbok Wayang

Mbok Wayang sedang menunggui wayang yang dijualnya di pasar burung Kartini Semarang (Abdus Salam)

Wednesday, 25 December 2013

Musim Hujan, Harga Tomat Mahal

 Herman terlihat sedang menunggui tomat dagangannya yang masih sepi karena harga yang makin mahal. (ABDUS SALAM/BAROMETER)


       
SEMARANG - Musim hujan yang mulai berlangsung mempengaruhi harga sayuran di pasaran. Di Pasar Johar Semarang, harga sayuran seperti cabe teropong, bawang merah dan tomat mengalami kenaikan harga.
Sedangkan sayuran yang mengalami kenaikan drastis, adalah tomat. Harga tomat yang semula Rp 4500 per satu kilogram, kini harganya menjadi Rp 10 ribu per satu kilogram.
Seperti yang diungkapkan salah satu pedagang sayuran di Pasar Johar Semarang, Wiji Lestari, selama musim hujan, sayur-sayuran mengalami kenaikan, terutama yang terlihat begitu mencolok yaitu harga tomat.
"Sayuran yang harganya naik drastis tomat, sekarang per satu kilogramnya Rp 10 ribu, dari yang semula cuma Rp 4 ribuan," ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan pedagang tomat, Herman, bahwa harga tomat sangat mahal dari bulan sebelumnya, ini dikarenakan hujan yang sering turun, jadi pohon tomat dari petani banyak yang mati dan buahnya busuk.
Mahalnya harga tomat berpengaruh pula pada penjualan yang semakin sepi. "Karena hujan jadinya tomat pada busuk, tanamannya juga banyak yang mati, penjualan juga berkurang," ujarnya.
Disinggung soal pengaruh tren Natal dan Tahun Baru, Herman mengungkapkan bahwa hal tersebut tidak mempengaruhi harga tomat.
"Tomat-tomat yang saya jual harga mahal karena dari petani mahal, mahalnya ini bukan karena Natal ataupun Tahun Baru," tandasnya.
Tomat-tomat yang selama ini dijual didatangkan dari daerah Wonosobo. Jadi stok dan harga sangat berpengaruh pada kondisi cuaca pada daerah sekitar.
"Kalau Wonosobo cuacanya nggak mendukung dan stok tomat tidak ada, sudah pasti harga tomat mahal," kata Herman. (lam/b6)

Monday, 18 November 2013

BI Rate Naik, Ekonomi Jateng Aman




SEMARANG - Kenaikan tingkat suku bunga acuan (BI rate) sebesar 7,5 persen tidak akan menganggu pertumbuhan ekonomi Jateng, ungkap Budi Trisnanto, Divisi Asesment Ekonomi dan Keuangan BI Kantor Wilayah V Jateng, baru-baru ini.
Hal ini lantaran pihaknya setelah mencermati pertumbuhan ekonomi yang terjadi di triwulan III, hasil yang lebih baik justru terlihat di triwulan empat tahun ini. Salah satunya dibuktikan dengan laju ekspor pada triwulan III lebih lambat atau belum mengalami peningkatan yang signifikan. Hingga akhir tahun ini pertumbuhan untuk year to date sebesar 5,9 persen.
“Jika mengacu pada target awal yang kisaran pertumbuhan ekonomi ada di angka 5,6 persen hingga 6,1 persen, maka jumlah 5,9 persen tersebut cukup realistis,” ujar Budi.
 Budi menambahkan, kenaikan BI rate ini bertujuan untuk mengurangi defisit transaksi berjalan. Dengan kenaikan BI rate terebut kiranya membuat pertumbuhan impor menjadi berkurang, sedangkan disisi lain kenaikan BI rate juga dapat membuat inflasi dapat terkendali sehingga tingkat konsumsi masyarakat lebih stabil.
"Sebenarnya pertumbuhan ekonomi sebesar 5,9 persen tidak menjadi masalah asalkan konsumsi masyarakat tetap terjaga," ujarnya.
Selain itu, meski kenaikan BI rate dinilai membuat laju pertumbuhan melambat, namun dalam laju perekonomian nasional tidak akan anjlok karena pemerintah berupaya menjaga dengan mengeluarkan regulasi yang tidak bertentangan dengan kebijakan BI.
"Maka, kenaikan BI rate akan meningkatkan stabilitas makro dan confident baru. Sebab, dengan kenaikan BI rate akan membuat neraca transaksi berjalan menjadi lebih sehat," terangnya. (lam/b6)