Tuesday, 18 March 2014

Gas Pipa Kalija

Petugas sedang mengecek pipa-pipa yang akan dibasang pada proyek Kalija (Abdus Salam)

SBY Resmikan Pipa Transmisi Kalija

DIRESMIKAN. Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan proyek Pipa Transmisi Kalija dit PLTGU Tambak Lorok Semarang, Jumat (14/3). (ABDUS SALAM)

TANJUNG MAS- Pemancangan tiang pertama (ground breaking) Pembangunan Infrastruktur Terintegrasi Gas Bumi Jawa Tengah merupakan momentum penting untuk mempercepat program konversi  energi  dari bahan bakar minyak (BBM) ke gas bumi, Jumat (14/3).  Dalam sambutanya,  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap,  presiden mendatang bisa meneruskan apa yang telah dilakukan pemerintah sekarang.

"Hari ini adalah momentum bersama untuk membulatkan tekad kita dan meningkatkan upaya, serta kerja keras untuk membangun negeri tercinta, termasuk memajukan kehidupan saudara-saudara kita di Jawa Tengah,”ujarnya.
Presiden juga mengajak masyarakat untuk mendukung presiden mendatang dan pemerintahannya agar mereka bisa bekerja lebih baik, efektif, dan berhasil. SBY juga menegaskan bahwa kehidupan bernegaraa adalah berbangsa.
Pembangunan jaringan pipa gas terintegrasi ini  dijadwalkan akan rampung pada kuartal ketiga 2015. Dalam laporannya pada acara ground breaking , Menteri ESDM, Jero Wacik juga menjelaskan bahwa pembangunan Insfrastruktur Gas Bumi Jateng ini merupakan bagian dari jaringan pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija).
Sementara  itu,  Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyambut baik atas dimulainya pembangunan gas bumi yang terintegrasi dengan baik, yang terdiri dari pipa transmisi  Kalija I dan II  yang hari ini dilakukan ground breaking tahap pertama,
Ganjar berharap ke depan energi ini tidak hanya digunakan menjadi perekembangan sistem sektor , tetapi juga konsumsi masyarakat yang lebih luas . Sehinga mendorong program hemat energi dan tidak tergantung lagi dengan BBM komsumsi publik.
Peresmian ground breaking dilakukan Presiden SBY secara simbolis dengan menekan tombol sirine. Presiden didampingi Menteri ESDM Jero Wacik, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan Dirut PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Hendri Priyo Santoso.  (abdus salam)



Tambah Rumah Pompa Bukan Solusi Atasi Banjir



TAWANG MAS- Permasalahan banjir yang sering melanda Semarang memang  menjadi persoalan yang sulit diatasi, terlebih kurangnya disiplin dari warga dan mandulnya pemerintah dalam mengatasai banjir.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dalam acara jalan sehat bersama warga kelurahan Tawang Mas, mengatakan bahwa permasalahan banjir dan rob di Kota Semarang, terlebih yang sering melanda kawasan Kelurahan Tawang Mas harus dipikul bersama-sama dengan melibatkan Pemerintah dan para warga. Menurutnya, salah satu solusinya yaitu dengan melakukan budaya disiplin.

Lebih lanjut, Hendi menuturkan bahwa, disiplin akan tumbuh bila ada tekad dan keinginan dari lubuk hati dari masing-masing individu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Seperti bentuk disiplin yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

"Bila melihat sampah tercecer di jalan, maka segera pungut sampah tersebut untuk dipindahkan ke tempat sampah," ujarnya.

Ditambahkan Hendi, bentuk lain yang lebih bagus dengan melakukan swadaya gotong-royong tanpa harus diperintah lurah atau camat. Hal semacam itu menurutnya dapat lebih efisien untuk menciptakan kebersihan sehingga sampah-sampah yang ada dapat terangkut semua di tempat semestinya.

Semantara itu, salah seorang warga kelurahan Tawang Mas, Misnadi, meminta kepada pemerintah Kota untuk menambah rumah pompa yang berguna untuk mengatasi banjir dan rob. Namun permintaan tersebut ditolak secara halus oleh Wali Kota, karena menurutnya penambahan rumah pompa itu bukan solusi satu-satunya untuk menyelesaikan banjir dan rob.

"“Percuma saja jika Pemkot Semarang bantu rumah pompa, tetapi tingkat disiplin warga sini masih rendah,” katanya.


Menurut Hendi, rumah pompa perlu dana yang tak sedikit baik itu dalam hal perawatannya maupun mendatangkan awalnya, jadi lebih baik melakukan hal-hal yang lebih efektif dan efisien terlebih dahulu ketimbang menghamburkan dana. (abdus salam)

UMKM Mampu Kurangi Pengangguran


Pengunjung melihat galeri UKM dan UMKM di galeri Semarangan yang digelar di  Lobby Gedung Moch.Ikhsan Lt.1 Balai Kota Semarang. (Dok)


SEMARANG - Produk-produk unggulan Semarang yang berasal dari kegiatan UKM, UMKM dan Deskranada (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Semarang menjadi sarana efektif untuk mempromosikan dan mengembangkan usaha produk-produk unggulan.
Acara Galeri Semarangan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang besar bagi produk industri dan kerajinan untuk lebih bisa mengembangkan serta mengenalkan produknya pada semua masyarakat luas khususnya di Kota Semarang.
Kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, semakin banyak sarana yang digunakan dalam mempromosikan UKM dan UMKM, akan semakin berkembang pula usaha tersebut, sehingga kegiatan promosi mampu mendorong dan menghasilkan kemandirian ekonomi daerah.
Disamping itu, koperasi dan UKM, UMKM, mampu menjadi pelopor terbesar dalam upaya mengurangi jumlah pengangguran. Pemasaran atau marketing merupakan salah satu kunci utama agar produk-produk UKM danUMKM yang ada semakin dikenal dan dicintai masyarakat.
“UMKM mampu membuka lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat Kota Semarang,” ujar Hendi, kemarin.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Litani Zaenuri, dalam laporannya menuturkan, bahwa dalam peresmian Galeri Semarangan terdapat 5 Cluster, diantaranya Cluster Batik, Cluster Handycraft, Cluster Bandeng, Cluster Olahan Pangan, dan Cluster Pariwisata.
Adanya Galeri Semarangan ini merupakan wujud keberpihakan Pemerintah Kota Semarang pada pelaku usaha UMKM dan anggota Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kota Semarang yang merupakan pemicu semangat  untuk dapat meningkatkan kreativitas dan kualitas produk mereka serta  dapat mengembangkan inovasi.

“Dalam membuat kerajinan  tangan maupun olahan pangan walaupun dari bahan-bahan yang sederhana yang dimanfaatkan dapat menghasilkan sebuah karya dan memiliki nilai jual yang tinggi sesuai mutu dan kualitasnya,” ujarnya. (lam/b6)

Kawasan Industri Simongan Akan Digusur


BALAIKOTA-  Ratusan buruh yang tegabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) dan Forum Komunikasi Pekerja Simongan (FKPS) melakukan unjuk rasa menolak penggusuran kawasan industri Simongan yang diterbitkan pada perda kota Semarang nomor 14 tahun 2011 tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Semarang tahun 2011-2031, Senin (17/3).
Para buruh ini melakukan orasi dan membentangkan poster bertuliskan  "menolak penggusuran pabrik kawasan Simongan" dan "Kami menolak keras relokasi kawasan industri Simongan". Orasi yang berlangsung sekitar empat jam ini tidak menimbulkan kerusuhan.
Dalam aksinya, koordinator FKPS, Slamet Kaswanto, menuturkan kepada pemerintah Kota Semarang dan DPRD Kota Semarang untuk mengkaji ulang perda nomor 14 tahun 2011 tentang rencana tata ruang wilayah Kota Semarang  tahun 2011-2031 dan selanjutnya dilakukan revisi tentang pasal yang mengatur ketentuan peruntukan kawasan Simongan yang tidak boleh menjadi kawasan industri.  Kedua, memasukkan ke dalam perda revisi tentang RTRW bahwa kawasan Simongan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Semarang Barat,  peruntukannya salah satunya adalah untuk zona industri.
"Karena yang bisa merubah keputusan politisi ini adalah para politisi yang ada di DPRD kota Semarang maupun keputusan politisi dari jabatan semacam Wali Kota Semarang," ujarnya.
Ditambahkan Kaswanto, dengan munculnya perda tersebut secara otomatis kawasan industri Simongan ini harus hengkang dari bumi Simongan yang sudah bertahun-tahun memakmurkan para pekerjanya dan masyarakat sekitarnya. Belum lagi dengan munculnya isu akan digusurnya pabrik-pabrik dari kawasan Simongan. Bahkan daerah ini akan dijadikan kawasan pariwisata dengan segala aspek pendukungnya.  Artinya bila benar hal tersebut direncanakan, maka sebenarnya perda tersebut hanya dibuat untuk kepentingan seseorang atau kelompok tertentu dengan mengorbankan kepentingan rakyat yang lebih besar.
"Sebagaimana diketahui, kawasan industri Simongan yang terletak di wilayah Kecamatan Semarang Barat sampai saat ini adalah tempat mencari nafkah untuk menghidupi sekitar 7.392 orang pekerja," katanya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Wiwin Subiyono saat dikonfirmasi melalui telpon menegaskan bahwa kawasan Simongan itu memang  menurut RTRW sekarang ini sudah tidak menjadi daerah industri, namun untuk kawasan hijau di Kota Semarang.
“Perda tersebut masih dikaji secara mendalam dan masih menunggu Yudisial Preview di Mahkamah Agung,” ujarnya.
Disinggung mengenai menyakiti karyawan di kawasan Simongan, Wiwin menegaskan bahwa peraturan tetap akan ditegakkan sesuai aturan yang ada, dan jika nantinya Yudisial Preview di Mahkamah Agung itu menangkan oleh pihak kawasan Simongan, nantinya pemerintah juga akan mengubah perda RTRW Kota Semarang tersebut.
“kita masih tunggu, kajian di Mahkamah Agung, kalau memang perlu dirubah nanti akan dirubah perdanya,” ujarnya.  (Abdus Salam)


HUT Satpol PP dan Linmas ke-64, Pikul Tanggung Jawab Pemilu



BALAIKOTA- Pada hari jadi ke 64 Satpol PP dan hari jadi satuan Linmas, yang digelar di halaman Balaikota, Senin, (17/3), Wali Kota Semarang menyampaikan sambutan dari Mendagri  dalam peringatan hari jadi Satpol PP dan Satuan Linmas tahun 2014 ini menjadi sangat istimewa karena bersamaan waktunya dengan tahapan penyelenggaraan pemilu legislatif yang akan dilaksanakan 9 April. Yang mana itu semua satpol PP dan Linmas harus menyiapkan diri sejak dini untuk mengamankan keamanan, ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.
HUT yang diusung tahun ini adalah “Satuan Polisi Pamong Praja dan Satuan Perlindungan Masyarakat siap mengawal pelaksanaan pemilu 2014 melalui tugas pokok dan fungsi”. Tema ini merujuk kepada upaya peningkatan kesiapsiagaan serta keterlibatan satpol PP dan Satuan Linmas sebagai suatu satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang memberikan dukungan kelancaran pada pelaksanaan pemilu 2014.
“Hal itu dikarenakan terdapat relevansi antara tupoksi Satpol PP dan Satuan Perlindungan Masyarakat dalam penegakkan perda serta penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat termasuk di dalamnya pengamanan Pemilu 2014” katanya.
Lebih lanjut, Wali Kota mengatakan, bentuk pengawalan pelaksanaan pemilu 2014 antara lain dapat dilakukan dengan pelaksanaan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi, baik secara vertikal maupun horizontal dengan instansi terkait seperti KPUD, Panwaslu, TNI dan Polri serta Badan Kesbangpol di daerah.
“Dapat juga melakukan optimalisasi peran aktif masyarakat melalui tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat, dengan mengutamakan prinsip-prinsip kearifan lokal”, jelasnya.
Hendi berharap, agar tak lupa Satpol PP dan Satuan Linmas menyampaikan laporan secara tertulis setiap perkembangan situasi dan kondisi ketertiban umum dan ketentraman masyarakat serta perlindungan masyarakat di daerah masing-masing. (abdus salam)

Indizone, Sarana Belajar Masa Kini


FOTO BERSAMA. Direktur PT Telkom, Director Marketing Intel dan Pemkot Semarang melakukan foto bersama usai peresmian Indizone di halaman PT Telkom. (Abdus Salam)

PLEBURAN- Ikon kreativitas dan sarana pembelajaran TIK yang pertama bagi publik di Kota Semarang secara resmi dihadirkan oleh PT Telkom dan Intel Indonesia Coorporate dengan nama indizone, Selasa (18/3).
Kepala Telkom Semarang, Riyanto Utomo, menuturkan bahwa kehadiran teknologi informasi komunikasi atau ICT dalam proses pembelajaran saat ini sangat  krusial dan hal ini harus didukung dengan konektivitas yang mumpuni, maka demi kelancaran proses pembelajaran pada abad ke-21 dan implementasi kurikulum 2013 tersebut, Telkom bekejer sama dengan Intel membangun sarana yang akurat untuk menunjang kreativitas pendidikan bagi anak muda khususnya di Kota Semarang.
“Indizone ini merupakan  langkah awal yang diciptakan Telkom dan Intel untuk memajukan kreativitas anak muda khususnya di Semarang,” tuturnya.
Indizone ini bisa dinikmati di halaman Gedung Telkom, pada tanggal 18 Maret- 26 April 2014 setiap hari Selasa – Minggu pukul 15.00 – 22.00. Di sini para pengunjung bisa menggunakannya secara gratis. Selain itu pada ruangan Indizone, juga akan dijelaskan secara detail proses pembuatan prosesor intel mulai dari awal sampai akhir dengan layar tiga dimensi.
Menurut Marketing  Director Intel Indonesia Corporate, Hermawan Santoso, Indizone merupakan kontribusi Intel bagi kaum muda di seluruh dunia untuk mengenalkan teknologi sedini mungkin. Dengan adanya Indizone ini berharap seluruh publik di Kota Semarang dapat memanfaatkan kehadiran ikon kreativitas untuk  meningkatkan pengetahuan pada bidang ITK.
“Indizone digunakan untuk mengenal teknologi sedini mungkin,” katanya.
Pada kesempatan kali ini juga dilakukan penandatanganan MoU antara Telkom dengan Intel Indonesia Corporation dan Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk program pengembangan profesionalitas guru dan pemberdayaan SDM melalui TIK. (Abdus Salam)





Thursday, 20 February 2014

Rumah pintar Efata, Mendidik sekaligus Wirausaha


 anak-anak berkebutuhan khusus berlenggak-lenggok di atas karpet merah bak model profesional (abdus salam)

SEMARANG- Lenggak-lenggok di atas karpet merah tidak serta merta hanya bisa dilakukan oleh orang normal. Di Semarang, berjalan di atas karpet merah bisa dilakukan oleh anak-anak yang bekebutuhan khusus seperti anak-anak yang kurang dalam pendengaran. 
Dengan diiringi musik, biarpun para model ini tidak bisa mendengar, namun dengan trik dan kode tersendiri dari sang pelatih, mereka mampu melakukannya bak modeling profesional. 
Para modeling ini diasah keterampilannya oleh rumah pintar anak "Efata",  Sebagai penyambung bakat para penyandang tuna rungu tersebut. "Efata" sebagai rumah pintar anak berkebutuhan khusus gangguan pendengaran memberikan dan melatih anak-anak menjadi apa yang mereka inginkan, seperti bidang modeling dan melukis.
Alhasil mereka yang mempunyai bakat terpendam mampu mengembangkannya dan bisa bersosialisasi layaknya anak-anak normal biasa. 
Menurut pendiri "Efata" Windi Aryadewi (42), lomba modeling anak-anak berkebutuhan khusus yang digelar di Citra Marina ini  mampu menguatkan hati mereka untuk tetap percaya diri dan bisa bersosialisasi dengan anak-anak lainnya. 
"Saya berharap  semoga anak-anak dapat bersekolah di sekolah inklusif pada umumnya dan  berharap Semarang menjadi Kota yang ramah difabel,"ujarnya saat ditemui.
Dalam lomba ini Windi juga menjelaskan bahwa selain lomba modeling juga ada lomba melukis disepatu dan juga membatik. Hasil dari karya anak-anak berkebutuhan khusus ini selain di pamerkan dan dilombakan juga di jual jika ada orang yang berminat.
"Seperti batik-batik yang dipakai ini kita lepas dengan harga seratus ribu'"ujarnya sambil berpromosi.
Hasil penjualan produk anak-anak tersebut nantinya dijadikan kas oleh rumah pintar "Efata" sebagai sumber dana mengembangkan "Efata"
"Efata" sendiri adalah rumah pintar anak berkebutuhan khusus yang dilahirkan sejak 13 Agustus 2013 yang beralamat di jalan Lemah Gempal V No 4 Semarang, disini (Efata) orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus bisa memasukkannya dengan tanpa biaya sepeserpun alias gratis.
Salah satu orang tua dari murid didik "Efata" Juri Sumiyanto (42) warga Simongan ini mengaku terbantu dengan adanya rumah pintar "Efata" tersebut, karena bisa meringankan beban dan membantu buat anaknya bisa menikmati pendidikan layaknya orang-orang normal. 
"Bangga dengan adanya "Efata" karena anak saya bisa beprestasi, apalagi di disini juga gratis,"ujarnya. (Lam)

Harga Sayuran Kubis Mengalami Kenaikan

salah seorang pedagang menjajakan sayuran Kubis di pasar Johar Semarang (Abdus Salam)


SEMARANG- Pasca meletusnya gunung Kelud di Kediri Jawa Timur berpengaruh pada harga sayuran di Pasar Johar Semarang, terutama pada jenis sayuran kubis.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi sayuran kubis di pasar Johar Semarang sedikit berkurang, Selasa (18/2). 
Menurut salah seorang  penjual sayuran, 
Martini, harga sayuran setelah terjadinya letusan gunung kelud menjadi terhambat, karena banyak petani yang terkena dampak hujan abu vulkaniknya. 
Menurutnya, kelangkaan berdampak pada sayuran jenis kubis yang mengakibatkan harganya semakin mahal. 
"Semula harganya dua ribu perkilonya sekarang sampai empat ribu rupiah,"ujarnya saat ditemui di lapaknya.
Sedangkan untuk jenis sayuran sawi, daun bawang dan sayuran lainnya masih pada harga normal. 
Pedagang lain menuturkan hal yang sama, selama beberapa hari ini sayuran jenis kubis menjadi naik sampai 4000 ribu rupiah.
"Kalau sayuran-sayuran lain masih normal, cuman untuk kul/kubis ini menjadi, kan petaninya pada gak berani ke sawah karena ada hujan abu, kalaupun ada sayurannya juga layu kena abu itu,"katanya sembari menawarkan sayuran kepada pembeli.
Kebanyakan sayuran-sayuran yang dijual ini didatangkan dari daerah Wonosobo, biarpun jauh dari lokasi gunung kelud, namun daerah Wonosobo juga kena dampak letusan gunung Kelud yang berlokasi di Kediri Jawa Timur.  (Lam)

Harga Cabe Masih Mahal

Beni sedang melayani pembeli di tempat jualannya di Pasar Johar Semarang. (Abdus Salam)
SEMARANG- Harga cabe di pasaran pada bulan ini tercatat tidak begitu stabil. Ketidak stabilnya harga cabe ini bisa dikarenakan banyak bencana yang terjadi di Jawa Tengah seperti, banjir tanah longsor, kondisi jalan yang rusak dan meletusnya gunung Kelud di Kediri beberapa waktu lalu.
Berdasarkan catatan Kepala Bidang Badan Pusat Statistik Jawa Tengah, Jam Jam Zamachsyari bahwa secara umum harga-harga bahan pokok di pasaran sudah mulai turun, namun pemerintah perlu segera melakukan perbaikan infrastruktur yang rusak agar pengendalian dapat dilakukan dengan baik.
"Secara umum harga-harga sudah mulai turun, tapi seperti cabe itu memang banyak orang yang membutuhkan, jadi karena permintaan yang banyak dan kurangnya stok bisa menjadikan harga kembali naik,"ujarnya saat konferensi pers di kantor Otoritas Jasa Keuangan, Rabu, (19/2).
Berdasakan pantauan di lapangan, di Pasar Johar Semarang, harga cabe masih relatif mahal. Seperti cabe merah kriting yang menembus angka Rp 15000 per satu kilogram, cabe setan rawit Rp 35000, cabe ijo teropong Rp 13000, dan cabe ijo keriting Rp 9000. 
Menurut pedagang cabe di pasar Johar Semarang, Beni (40), kondisi harga cabe beberapa hari ini terkendala dengan adanya hujan abu vulkanik, karena sebagian pemasok cabe yang ada di Jawa Tengah seperti, Muntilan, Magelang Wonosobo terkena dampak letusan Gunung Kelud. 
Selain itu, harga cabe juga dipengaruhi jumlah pasokan yang ada di pasaran, kondisi barang ini sangat berpengaruh dengan naik turunnya harga cabe di pasaran. 
"Beberapa hari ini masig tergolong mahal harganya, apalagi kemarin juga sempat terjadi hujan abu, jadi pasokan berkurang," katanya saat ditemui di tempat jualannya.  
Dikatakan Beni, cabe yang tidak laku dan menjadi busuk menjadikan dirinya merugi. Dengan kondisi seperti itu biasanya para pedagang membanting harga yang lebih murah dengan kondisi barang yang jelek. 
"Cabe-cabe yang restan tetap kita jual dengan harga rendah, karena kualitasnya sudah menurun, ini juga membantu mengatasi kerugian,"tambahnya. (Lam)
 

Bencana Terdampak Terahadap Perekonomian

  (dari kiri) Gembong P Nugroho, Putra Nusantara, Y Santoso Wibowo, Edi S Bramiyanto dan Jam Jam Zamachsyari saat melakukan konferensi pers di kantor OJK regional 4. (Abdus Salam)

SEMARANG- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan perwakilan Bank Indonesia Wilayah V, pemerintah provinsi Jawa Tengah, Badan Pusat Statistik Jawa Tengah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah, melakukan konferensi Pers terkait evaluasi dampak bencana yang terjadi selama ini. Pertemuan tersebut terkait tindak lanjut dari koordinasi antara instansi terkait.  
Kepala BUMD propinsi Jawa Tengah Edi S Bramiyanto, yang sekaligus mewakili Pemerintah propinsi Jawa Tengah mengungkapkan bahwa banjir tersebut menimbulkan kerusakan yang cukup signifikan terhadap sektor ekonomi, seperti tanaman pangan, peternakan dan perikanan.  Untuk sektor tanaman pangan, diperkirakan puluhan ribu hektar padi terendam banjir dan mengalami puso. Maka dari itu pemerintah akan memberikan bantuan bibit kepada para petani. 
"Untuk peternakan sendiri kerugian dialami akibat kematian ternak, baik itu sapi, kambing, domba, kerbau, itik dan lain-lain," ujarnya dalam konferensi pers. 
Untuk sektor kelautan dan perikanan ini juga mengalami kerugian, kerugian terjadi akibat kerusakan aset, antara lain, pompa dan kincir air, saluran tambak, kolam ikan dan benih yang hanyut. Kondisi ini berdampak pada menurunnya volume produksi ikan budidaya sebesar 10-15 persen dari total produksi tahun 2013 yang mencapai 293 ribu ton. 
Dikatakan pula kepala divisi akses keuangan dan UMKM kantor perwakilan BI wilayah V, Putra Nusantara, bahwa banjir juga berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, antara lain karena terganggunyta produksi akibat sawah yang terendam dan puso. 
"Pada sisi lain juga meningkatkan terjadinya inflasi akibat terganggunya jalur pasokan dan distribusi barang,"tambahnya. (Lam)

Pasca Bencana, Kredit Macet Tembus Rp 365,75 M

  Y Santoso Wibowo (tengah) saat menjelaskan kredit macet saat konferensi pers di kantor OJK regional 4. (Abdus Salam)

SEMARANG- Rentetan bencana yang menerjang di wilayah Jawa Tengah belum lama ini telah mengakibatkan sektor perekonomian warga lumpuh. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengidentifikasi kerugian senilai Rp 2,01 triliun pasca bencana banjir dan tanah longsor kemarin.

Diungkapkan Kepala Bidang Infrastruktur dan Prasarana Wilayah Bappeda Jateng, Budi Setyana, seusai acara rapat koordinasi dengan OJK di kantor OJKRegional 4 Jawa Tenga.
Menurut Budi, jumlah kerugian dibagi dalam lima kelompok dengan laporan data dari kabupaten/kota. 
“Tercatat total kerugian sementara Rp 2,01 triliun, dengan nilai terbesar pada sektor ekonomi mencakup pertanian, perkebunan, peternakan dan perdagangan sebesar Rp 872,7 miliar,” ujarnya.

Kelompok lain yang kena dampak yaitu sektor perumahan termasuk prasarana pemukiman sebesar Rp 424,8 miliar. Sementara infrastruktur sendiri meliputi jalan, jembatan, tanggul, sanitasi, irigasi dan perhubungan, teridentifikasi rugi Rp 690,2 miliar. “Namun, identifikasi juga mencatat kerugian pada sektor sosial, kesehatan dan pendidikan senilai Rp 19,4 miliar serta lintas sektor berupa sarana prasarana pemerintahan sebesar Rp 3,3 miliar,” ujarnya.

Selain itu,  kerugian pasca bencana ditanggulangi melalui pemulihan dengan alokasi anggaran Pemprov bekerja sama dengan pemerintah pusat maupun daerah. Pada 2014 pihaknya murni memakai anggaran yang sudah ada yakni Rp 74,5 miliar. “Namun, apabila alokasi belum tepat pakai saat ini sudah disiapkan rencana pengajuan APBD perubahan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala OJK Regional 4 Jateng dan DIY, Y Santoso Wibowo, dalam waktu dekat akan mengeluarkan Peraturan OJK yang bisa membuat pelaku kredit yang merugi bisa menerima kredit baru. Di samping itu, pihaknya telah melakukan pendataan dampak langsung dan tidak pada korban banjir. “Dalam hitungannya, pada bulan Desember 2013, potensi yang terkena dampak banjir adalah Rp 365,75 Miliar dari total 1346 rekening nasabah atau 0,21persen dari total kredit Desember 2013,” bebernya.
Santoso menjelaskan, potensi kerugian terbesar pada kredit tersebut ada pada sektor perdagangan dan jasa yakni sebesar Rp 129,28 Miliar, sektor Perikanan Rp 99,13 Miliar, sektor perikanan Rp 71,90 Miliar. Sementara total kredit macet hingga per Jum’at (14/2) sebesar Rp 365.759 Miliar. “Untuk rinciannya, Bank Mandiri Rp 35.150 juta, BRI Rp 111.768 juta, BNI Rp 70.962, CIMB Niaga Rp 0 Rp, BCA 5,5.01 juta, BII Rp 0 Rp,  BPD Jateng Rp 92.368 juta, totalnya 365.759 miliar,"jelasnya. (Lam)